Panji Laksono (081219633036) bemkmipb.official@gmail.com

 

PILAR KETAHANAN PANGAN

 

  • Ketersediaan

Pada tahun 2017, Badan Ketahanan Pangan fokus dua kegiatan prioritas, yakni Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dan Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) melalui toko Tani Indonesia (TTI). Pelaksanaan  kegiatan PUPM tahun 2017 dengan sasaran baru di 7 Provinsi yakni, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Lampung, dan Nusa Tenggara Barat dengan target Lembaga UsahaPangan Masyarakat (LUPM) sebanyak 406 untuk memasok 1.000 TTI yang berada di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Komoditi yang dipasok, yakni beras, cabe dan bawang merah.

Ketersediaan pangan merupakan aspek penting dalam mewujudkan ketahanan pangan. Penyediaan pangan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi masyarakat, rumah tangga, dan perseorangan secara berkelanjutan. Untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dan meningkatkan kuantitas serta kualitas konsumsi pangan, diperlukan target pencapaian angka ketersediaan pangan per kapita per tahun sesuai dengan angka kecukupan gizinya. Berdasarkan RENSTRA Ketahanan Pangan 2015-2019, ketersediaan pangan dapat dimanfaatkan sebagai stok atau cadangan maupun untuk ekspor. Sejauh ini ketersediaan pangan di beberapa daerah masih belum merata, hal ini dikarenakan salah satu faktornya adalah kondisi alam yang tidak menentu sehingga tingkat produksi dan produktivitas tiap daerah berbeda jauh.

 

  • Keterjangkauan fisik dan aksesibilitas ekonomi

Keterbatasan transportasi dan daya simpan produk pertanian masih menjadi kendala utama. Hal ini mengakibatkan keterjangkauan fisik suatu produk minim, karena daya simpan produk yang tidak tahan lama dan mudah rusak. Sampai saat ini belum ada teknologi yang memang terintegrasi secara nyata untuk menanggulangi perihal tersebut. Karena ketika produk pertanian tidak baik sampai kepada pasar, harga jual ekonominya akan rendah dan kesejahteraan petani semakin terpuruk.

 

  • Stabilitas pasokan dan harga

Perihal stabilitas pasokan dan harga berarti berbicara terkait meratanya pasokan di tiap daerah Indonesia. Kita bisa belajar dari kasus cabai, khususnya cabai merah yang pasokan produksi nya sedikit karena ketergantungan iklim yang ekstrem, sehingga stabilitas harga menjadi menentu. Ketika pasokan produksi sedikit, maka harga akan menjadi sangat tinggi. Berdasarkan hal tersebut, banyak para ibu rumah tangga dan warung makan mengeluhkan hal ini. Seharusnya pemerintah sudah mewanti-wanti terlebih dahulu ketika cuaca ekstrem, produk apa saja yang sekiranya akan mengalami penurunan produksi dan kenaikan harga.

 

CARA MEMPERKUAT 3 PILAR KETAHANAN PANGAN

 

  • Meningkatkan ketersediaan pangan dalam negeri

Indikator ketersediaan pangan berkaitan dengan produksi pertanian, iklum, akses terhadap sumber daya alam, praktek pengelolaan lahan, pengembangan, institusi pasar, kerusuhan sosial. Indikator akses pangan meliputi antara lain sumber pendapatan, akses terhadap kedit modal.

Ketika penduduk semakin meningkat, maka ada baik nya pemerintah meningkatkan ketersediaan pangan dalam negeri. Hal ini di realisasikan dari Indoneisa berdaulat pangan atau swasembada beras. Sehingga pasokan beras dalam negeri selalu ada. Selain itu, strategi penanaman pagi tidak serentak, hal ini membuat pasokan beras selalu ada dan merata di seluruh daerah.

Namun demikian, peningkatan produksi atau ketersediaan pangan tidak selalu  menjamin terpenuhinya konsumsi pangan masyarakat atau rumahtangga. Seperti diungkap oleh Suryana (2014) bahwa terjadi kesenjangan yang cukup lebar antara rata-rata ketersediaan pangan yang lebih dari cukup dan rata-rata pangan yang benar-benar dikonsumsi masyarakat yang ternyata masih di bawah rekomendasi. Ketersediaan pangan yang memadai pada tingkat makro tidak serta merta dapat meningkatkan kualitas konsumsi dan status gizi masyarakat.

 

 

  • Meningkatkan distribusi pangan

Hal ini berkaitan dengan alur pendistribusian produk pertanian secara baik. Transportasi merupakan sorot utama yang menjadi motor penggerak agar prosuk pertanian dari supplier sampai kepada konsumen.

 

  • Meningkatkan kualitas konsumsi

Gizi dari suatu prosuk makanan merupakan hal yang sangat penting. Sebaiknya produk pertanian pun harusnya terintegrasi secara baik harus ada kandungan nilai gizi dan pestisida apa yang digunakan untuk tanaman. Sehingga konsumen mengetahui zat kimia atau pengaruh apa yang telah diberikan di produk pertanian tersebut. Konsumsi pangan yang umumnya dikaitkan dengan variasi zat gizi dan kecukupan pangan, seperti kecukupan energi dan zat gizi lainnya, sebagai dampak dari resultan dari cara menyediakan pangan, jenis makanan, diversifikasi pangan dan distribusi makanan dalam keluarga. Kombinasi dari pola konsumsi makanan dantingkat penyerapan makanan dalam tubuh akan menentukan status gizi seseorang.

  • Pencegahan gangguan ketahanan pangan

  • Meningkatkan kesejahteraan petani

Berdasarkan indeks pertanian, rata-rata penghasilan per bulan petani di Indonesia hanya Rp 1 juta per bulan, jauh di bawah rata-rata buruh industri yang gajinya mencapai sekitar Rp 3 juta   per bulan untuk UMR di kawasan Jabodetabek.   Dengan rendahnya pendapatan di sektor pertanian, perpindahan profesi dari sektor pertanian ke sektor lainnya, terutama ke sektor industri tidak bisa terhindarkan lagi. Rakyat tentu memilih bekerja di sektor yang memberikan penghasilan besar.

Perpindahan profesi ini tentu saja akan menyulitkan pemerintah dalam memenuhi target-target yang telah ditetapkan di sektor pangan. Misalnya saja target swasembada beras, swasembada jagung dan kedelai. Kondisi itu juga akan menyulitkan pemerintah untuk mengikis ketergantungan impor dalam pemenuhan bahan pangan lainnya.

Perlu adanya sebuah lembaga koperasi yang mampu membuat petani meminjam modal untuk keperluan tanamn nya. Karena sejauh ini koperasi di Inonesia masih kurang berjalan.

  • Ketersediaan sarana dan prasarana

Pada beberapa daerah ada petani yang mengeluhkan perlengkapan sarana dan prasarana untuk kegiatan menanam masih kurang memadai. Namun ada juga di beberapa daerah di Indonesia yang memang sarana dan prasarana lainnya sudah tercukupi. Tetapi ketercukupan saran dan prasaran yang diberika oleh dinas pertanian daerah tidak di gunakan dengan sebaik-baiknya, sebab pada kenyataannya di lapang masih saja ada petani yang menjual sarana atau alat dari dinas pertanian daerah untuk mendapatkan uang lebih. Sehingga dari hal tersebut perlu adanya pemantauan yang intensif kepada petani agar sistem yang ada di jalankan dengan baik.

 

 

 

 

 

UPAYA SEKTOR PERTANIAN DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM

  • Teknologi irigasi berselang

Teknologi sistem irigasi berselang merupakan salah satu dari paket teknologi alternatif yang digunakan mendukung Penglolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah, dimana dalam sistem irigasi ini tanah diusahakan untuk mendapatkan aerasi beberapa kali agar tidak terlalu lama dalam kondisi anaerobik yaitu, dengan cara mengatur waktu pengairan dan pengeringan atau drainase.

Kegunaan dari pengairan berselang pada PTT padi sawah adalah, agar tanaman padi mendapat aerasi yang cukup, mencegah keracunan besi (Fe), mencegah penimbunan bahan organik, menaikkan temperature tanah, membatasi perpanjangan ruas batang sehingga tidak rebah, mengurangi jumlah anakan yang tidak produktif, dan penggunaan air irigasi dapat dihemat.

Pada musim hujan, saluran air untuk petakan sawah sebaiknya  mengunakan pipa paralon yang biasa dibuka tutup. Secara umum paralon tersebut selalu terbuka tetapi diberi kasa sehingga tikus tidak bias masuk. Maksudnya agar air tidak tergenang, dan diharapkan air hanya macak-macak.

Sumber: http://bali.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=624%3Asistem-irigasi-berselang-pada-ptt-padi-sawah&catid=64%3Abptp-bali&Itemid=81

  • Teknologi adaptasi

Dalam menghadapi perubahan iklim yang ektrem ini, Indonesia sekarang sedang dihadapkan oleh kondisi la nina, yaitu kedaan ilkim yang hujan secara terus menerus. La nina ini membuat hampir banyak daerah di Indonesia gagal panen atau kesulitan untuk menanam karena kondisi lingkunganyang tidak memungkinkan. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah:

  • Mengembangkan varietas tanaman yang lebih toleran terhadap panas, kekeringan, banjir, hujan lebat.
  • Memberikan lebih banyak peneduh, atap, aliran udara di lumbung pangan untuk melindungi hasil panen ketika musim panas dimana suhu menjadi lebih tinggi.
  • Pengembangan teknologi kalender tanam yang lebih bersifat dinamis dan terpadu, teknologi hemat air, dll. Selain itu perlu adanya dilakukan pengembangan sistem jaringan stasiun klomatologi pertanian di kawasan sentra produksi perlu dilanjutkan.
  • Penggunaan varietas unggul tahan kekeringan, rendemen, dan salinitas

Varietas unggul padi yang telah teruji toleransinya terhadap kekeringan adalah Inpari 18, Inpari 19, Inpari 20, Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Inpago 8, dan Inpago Lipigo 4. Varietas toleran rendaman meliputi Inpari 29, Inpari 30 Ciherang Sub-1, Inpara 4, Inpara 5, dan toleran salinitas adalah varietas Inpari 34 dan Inpari 35.

Pada musim penghujan yang akan datang petani tidak usah kawatir dengan banjir pada areal sawahnya, karena Balitbangtan menciptakan padi varietas Inpari 29 Rendaman dan Inpari 30 Ciherang Sub 1 dapat dikembangkan pada lahan sawah irigasi rawan banjir masing-masing dengan potensi hasil 9,5 t dan 9,6 t/ha.

Sumber: http://www.litbang.pertanian.go.id/berita/one/2413/

  • Teknologi panen hujan

      Pemanenan air hujan merupakan cara penangkapan/penampungan dan pemanfaatan air hujan secara optimal. Tindakan panen hujan tersebut harus didukung dengan teknik konservasi air, maksudnya menggunakan air secara efisien, misalnya melalui penurunan penguapan air. Dengan menerapkan teknik panen hujan dan konservasi air diharapkan terjadi peningkatan ketersediaan air bagi tanaman dan ternak, meningkatkan intensitas tanam, serta peningkatan produksi dan pendapatan petani. Daerah-daerah yang memerlukan penerapan teknik pemanenan hujan secara khusus diantaranya adalah:

  1. Kawasan beriklim kering dan semi kering (>4 bulan kering berturut-turut sepanjang tahun atau 3-4 bulan tanpa hujan sama sekali).
  2. Kawasan dimana produksi tanaman pangan terbatas karena rendahnya ketersediaan air tanah pada waktu tertentu selama musim tanam.
  3. Pada lahan berlereng yang kondisi fisik tanahnya buruk sehingga tidak dapat menyimpan air.
  4. Teknologi irigasi

Pembangunan irigasi untuk persawahan tidak bisa berdiri sendiri. Pembangunan ini harus berkesinambungan dengan sarana dan prasarana penunjang kehidupan petani yang lain diantaranya: pembangunan jaringan transportasi yang baik, fasilitas lingkungan, tidak terpencil dan kemudahan untuk memenuhi kebutuhan yang lain.

 

 

PENINGKATAN PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS PANGAN

 

Strategi

  • 1. Peningkatan produktivitas

Cara yang tepat untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan adalah dengan cara meningkatkan kesuburan tanah serta bibit unggul dan budidaya yang benar. Semua orang mengetahuinya, bertani itu tidak mudah namun dengan didasari pengetahuan pertanian akan mudah dikerjakan.

Perkembangan teknologi pertanian semakin berkembang dan semakin maju, mulai dari mekanisasi sampai inovasi produk pertanian khususnya pangan semakin beragam dan menuju yang lebih baik. Tidak bisa lepas dari alam tanaman membutuhkan siklus hidup mereka masing-masing dan syarat tumbuh yang harus di penuhi.
Jadi jika ingin meningkatkan produktivitas pangan perhatikan kesuburan tanah, bibit unggul dan cara budidaya yang baik.

  • 2. Perluasan areal tanam

Semakin tahun, luas areal pertanian semakin menyusut. Hal ini dikarenakan banyaknya konversi lahan pertanian ke lahan non pertanian. Misalnya saja pendirian pabrik, bandara, perusahaan swasta, dan masih banyak lagi. Jika di analisis, kebutuhan petani akan areal tanam semakin bertambah namun pada kenyataannya areal tanam semakin sedikit. Area Pulau Jawa saja yang dijadikan sentra padi nasional semakin menyusut dan lebih banyak pemukiman warga dan pabrik karena semakin banyak orang ber pindah tempat tinggal. Sedangkan di luar Pulau Jawa misal Pulau Sumatera atau Kalimantan banyak lahan-lahan magrinal yang belum mampu dijadikan areal tanam, hal ini dikarenakan tingkat keasaman atau salinitas yang tinggi. Maka dari itu diperlukannya sistem budidaya atau teknologi yang mampu mengatasi ini. Selain itu perlu ditegakkannya UU lahan abadi untuk pertanian, agar luas area tanam tetap stabil.

 

 

 

  • 3. Pengamanan produksi

Erat kaitannya dengan pengamanan produk di hulu-hilir. Baik dari segi penampilan fisik maupun kandungan kebutuhan gizi nya. Agar produk sampai ke konsumen masih dalam keadaan segar.

  • 4. Pemberdayaan kelembagaan pertanian dan dukungan pembiayaan usahatani 

    Asuransi petani sudah ada bahkan tersurat dalam UU, tapi tidak berjalan karena petani sulit membayar asuransi yang ditawarkan. Selain itu koperasi petani pun tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga banyak petani kesulitan mendapatkan modal tanam sehingga pada akhirnya tak banyak petani yang melanjutkan menanam. Lembaga koperasi ini sangat baik jika dikembangkan kembali, karena sangat mem bantu petani.

 

PERNYATAAN SIKAP

  1. Berikan varietas unggul yang spesifik sesuai dengan daerah, berikan asuransi subsidi jika petani gagal.
  2. Pendidikan petani rata-rata SMP, Pemerintah seharusnya membuka sekolah pertanian guna menambah pengetahuan petani.
  3. Membangkitkan kembali koperasi pertanian di Indonesia dan adakan monitoring evaluasi terhadap koperasi.