Panji Laksono (081219633036) bemkmipb.official@gmail.com

Mahasiswa sebuah kata yang terdiri dari kata “maha” dan “siswa”. Penambahan kata maha mengintepretasikan mahasiswa bukanlah siswa biasa layaknya siswa SD, SMP dan SMA. Mahasiswa menempati tatanan sosial kehidupan dalam masyarakat sebagai tonggak kemajuan dan perkembangan suatu bangsa. Harapan akan adanya perubahan untuk menuju Indonesia yang lebih baik ada di pundak mahasiswa. Hal ini menjadi kewajiban yang harus ditunaikan oleh mahasiswa, mengingat masa depan bangsa Indonesia ada di tangan penerus bangsa ini.

 

Mahasiswa tidak lagi berperan sebagai individu yang hanya memikirkan masa depan pribadi. Namun, secara sadar bersedia untuk mengabdikan dirinya dalam kemajuan bangsa di masa mendatang dalam segala bidang mulai dari ekonomi, politik dan pemerintahan, sosial, kesehatan, pendidikan, dan hukum, secara profesional serta bertanggung jawab. Salah satu langkah konkrit yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan kegiatan pengabdian ke masyarakat.

 

Pengabdian ke masyarakat bisa dilakukan dengan tanggap terhadap isu-isu sosial yang terjadi di sekitar kita. Dapat pula dilakukan dengan turut aktif membantu masyarakat memperoleh penghidupan yang lebih baik lagi. Pengabdian ke masyarakat penting dilakukan karena kita bisa secara langsung melihat, mendengar, dan merasakan langsung problematika yang terjadi pada masyarakat. Dari hal tersebut, kita yang dibilang sebagai mahanya siswa bisa secara langsung ikut berperan membantu memberikan solusi.

 

Pengabdian ke masyarakat tidaklah harus dilakukan dengan sebuah langkah yang besar. Pengabdian ke masyarakat bisa dilakukan dengan langkah kecil dan dimulai dari apa yang menjadi keresahan di sekitar kita. Sebagai contoh, ketika kita hidup di lingkungan yang terdapat musola dan banyak anak yang bermain dengan perangkat teloponnya kita bisa melakukan sebuah langkah kecil untuk mengajak anak-anak tersebut mengaji di sore hari. Terdengar remeh mungkin, tapi dari sebuah langkah kecil itu tanpa disadari kita sudah membantu memberikan pendidikan agama kepada anak anak yang berada di sekitar kita.

 

Ketika mengabdi, kembalikan pada keikhlasan hati kita. Berpikirlah bagaimana kita memperlakukan orang lain selayaknya kita menginginkan diperlakukan oleh orang lain. Terasa berat, tapi yakinlah nurani akan mendorong kita untuk kembali kepada hakikat sebagai manusia, yakni makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya.

 

Terakhir, di tengah segala kekurangan dan keterbatasan saya. Saya mencoba mengajak wahai mahanya siswa yang diagung-agungkan kembalilah ke masyarakat, mengabdilah untuk masyarakat. Besar harapan masyarakat di luar sana kepada orang yang katanya penerus bangsa ini. Orang yang kelak diidam-idamkan sebagai pemimpin yang akan memimpin dan menentukan baik dan buruknya nasib bangsa ini di masa mendatang. Ingatlah fasilitas yang kita nikmati sekarang berasal dari tetesan keringat,darah, dan air mata masyarakat Indonesia.

 

 

“Karena tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula,” (QS Ar Rahman 60)

 

 

 

Rahardian Okta Pratama